Perekonomian masyarakat Desa Bonto Tappalang didukung oleh berbagai jenis mata pencaharian, baik sebagai pekerjaan utama maupun sampingan. Berdasarkan hasil penjajakan, masyarakat desa bekerja sebagai pengusaha kecil, pegawai negeri sipil (PNS), petani, pedagang kecil, tukang batu, tukang kayu, buruh tani, buruh bangunan, tukang ojek, serta sebagian warga yang merantau ke luar daerah untuk mencari nafkah.
Selain itu, Desa Bonto Tappalang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar, khususnya di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, yang menjadi penopang utama pendapatan masyarakat.
Potensi Pertanian Desa Bonto Tappalang
Tanaman Kopi
Tanaman kopi merupakan komoditas unggulan Desa Bonto Tappalang. Sekitar 55% dari luas wilayah desa merupakan lahan perkebunan kopi. Tanaman kopi mulai dikembangkan sejak tahun 1982 dan menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat.
Dalam satu tahun, kopi dipanen satu kali dengan rata-rata hasil 400–500 kg per hektare. Sebelum panen, kebun kopi dibersihkan dan dilakukan pemangkasan setelah panen. Peran laki-laki dan perempuan sangat penting dalam proses penyiangan, pemangkasan, dan pemetikan, di mana perempuan umumnya berperan dalam pengolahan hasil panen.
Sekitar 200 kepala keluarga (KK) bergantung pada hasil kopi, dengan 75% petani pemilik dan 25% petani penggarap. Masyarakat berharap adanya dukungan dari berbagai pihak agar pendapatan petani kopi dapat terus meningkat.
Tanaman Kakao
Selain kopi, kakao juga menjadi sumber pendapatan utama masyarakat. Sekitar 30% wilayah Desa Bonto Tappalang merupakan lahan perkebunan kakao yang telah dibudidayakan sejak tahun 1995.
Kakao dipanen satu kali dalam setahun dengan hasil rata-rata 500–700 kg per hektare per musim. Pemeliharaan tanaman dilakukan melalui pemangkasan dan pemupukan sebelum dan sesudah panen. Hasil panen kakao biasanya dikeringkan selama 1–2 hari, tergantung kondisi cuaca.
Pada musim hujan, proses pengeringan sering mengalami kendala. Oleh karena itu, masyarakat berharap adanya alat pengering kakao yang dapat diakses secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tanaman Cengkeh
Tanaman cengkeh mulai dikembangkan sejak tahun 1980-an dan saat ini mencakup sekitar 12% dari luas wilayah desa. Cengkeh dipanen satu kali dalam setahun dan memberikan kontribusi cukup besar terhadap pendapatan keluarga.
Hasil panen sangat bergantung pada perawatan tanaman. Rata-rata setiap pohon cengkeh menghasilkan 25–100 kg. Pemeliharaan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan melalui penyiangan dan pemupukan. Proses panen umumnya dilakukan oleh buruh tani dengan sistem upah sekitar Rp800–Rp1.500 per liter. Masyarakat berharap adanya program peningkatan kesejahteraan petani cengkeh.
Tanaman Markisa
Secara geografis, Desa Bonto Tappalang sangat cocok untuk budidaya tanaman markisa. Namun, hingga saat ini markisa belum menjadi sumber pendapatan utama karena keterbatasan akses pemasaran. Tanaman markisa umumnya tumbuh secara alami dan hanya dimanfaatkan sebagai konsumsi rumah tangga.
Masyarakat berharap adanya perhatian dari pihak terkait agar pengembangan markisa dapat dilakukan secara serius sehingga ke depan dapat menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat.
Pohon Kayu Olahan (Surian dan Ka’ne)
Berbagai kebijakan pemerintah terkait pengelolaan dan penebangan kayu membuat masyarakat tidak dapat secara bebas memanfaatkan kayu sebagai sumber pendapatan. Pohon surian dan ka’ne umumnya dimanfaatkan sebagai tanaman pelindung bagi kopi dan kakao.
Masyarakat berharap pemerintah dapat menyediakan bibit kayu yang berfungsi ganda, yaitu sebagai pelindung tanaman sekaligus memiliki nilai ekonomi, serta melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan pengelolaan kayu.
Tanaman Jagung
Sekitar 0,3% dari luas wilayah desa dimanfaatkan untuk menanam jagung. Tanaman ini umumnya digunakan untuk konsumsi rumah tangga, sehingga kontribusi ekonominya masih relatif kecil.
Meskipun bukan sumber pendapatan utama, jagung berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Masyarakat berharap adanya dukungan berupa peningkatan kapasitas petani, penyediaan pupuk, dan sarana produksi agar hasil panen dapat lebih optimal.
Potensi Peternakan Desa Bonto Tappalang
Ternak Sapi
Jumlah masyarakat yang memelihara sapi masih sangat sedikit, sekitar 2%, karena belum terbentuknya kelompok ternak. Sebagian ternak merupakan milik sendiri, dan sebagian lainnya dipelihara dengan sistem bagi hasil.
Ketersediaan pakan ternak di desa sebenarnya cukup memadai. Oleh karena itu, masyarakat berharap terbentuknya kelompok ternak sapi serta adanya bantuan ternak guna meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan perempuan.
Ternak Kuda
Kondisi iklim Desa Bonto Tappalang sangat cocok untuk pengembangan ternak kuda. Pakan ternak juga tersedia dengan baik, namun keterbatasan modal dan keterampilan menyebabkan hanya sekitar 0,7% masyarakat yang memelihara ternak kuda.
Kotoran ternak kuda dimanfaatkan sebagai pupuk organik, namun belum diolah menjadi kompos. Masyarakat berharap adanya pendampingan, pelatihan, dan bantuan ternak agar kuda dapat menjadi sumber pendapatan baru.
Ternak Kambing
Sekitar 25% kepala keluarga di Desa Bonto Tappalang memelihara ternak kambing, dengan 4% di antaranya menggunakan sistem bagi hasil (annesang). Laki-laki dan perempuan sama-sama berperan dalam pemeliharaan ternak ini.
Namun, keterampilan budidaya dan kesehatan ternak masih terbatas. Pada musim hujan, banyak ternak kambing terserang penyakit hingga menyebabkan kematian. Masyarakat berharap adanya pembentukan kelompok ternak, pendampingan teknis, dan bantuan dari pihak terkait.
Potensi Perikanan Desa Bonto Tappalang
Desa Bonto Tappalang memiliki sumber mata air tawar yang sangat potensial untuk pengembangan sektor perikanan. Namun, hingga saat ini potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena belum adanya perhatian dan pendampingan dari pihak terkait.
Masyarakat berharap adanya kerja sama dengan pemerintah dan pihak terkait untuk mengembangkan sektor perikanan sebagai sumber pendapatan baru bagi warga desa.